Chapter Text
Setelah mengumumkan secara resmi keputusan pensiunnya, Nani adalah gambaran paling tepat dari seorang male wife. Terbiasa membatasi diri dengan media sosial semenjak awal kehamilan, membuat Nani tak perlu beradaptasi berlebihan atas komentar fans maupun media mengenai berita pensiunnya. Sky telah lebih dari cukup membelanya dengan ikut mengumumkan secara resmi hubungan mereka berdua serta menjawab setiap pertanyaan media dengan tegas mengenai hubungan keduanya. Silly but sweet. Kini semua tau bahwa dia adalah mate seorang Sky Wongravee. Nani tak merasa dirugikan dengan status barunya. Toh, Sky tak pernah sekalipun lalai akan tanggung jawabnya. Dan lebih hangatnya lagi, Nani kembali merasakan kasih sayang orang tua melalui ayah dan ibu Sky. Not to mention that because of their powers, any slanderous attacks against Nani can be entirely suppressed. Intinya, hampir tak ada yang bisa Nani keluhkan memasuki lima bulan kehamilannya. Kecuali moodnya.
Nani masih bisa mentolerir perilaku kekanakannya—seperti menginginkan menu sarapan tertentu, menggunakan baju karena warnanya, atau menangisi ikan yang tertangkap paruh burung pada salah satu episode Nat Geo—selama itu tak ada hubungannya dengan Sky. Konyol menurutnya untuk tiba-tiba menangis hanya karena berada lebih dari satu meter dari lelaki itu. Nani mulai menyadari ini ketika dirinya merasa sangat kesal hanya karena Sky memilih sarapan dengan duduk di kursi makan seberangnya. Sky yang saat itu sedang teralihkan fokusnya pada sambungan telepon sontak kebingungan melihat alis Nani menekuk serta bibir yang mengerucut tiba-tiba. Sky butuh untuk berlutut selama tiga menit hingga akhirnya Nani berhenti menangis dan mengatakan keinginannya. Semenjak saat itu, Sky berjanji pada dirinya sendiri untuk berada tak lebih dari satu lengan dengan Nani.
Sky tentu tak keberatan. Terus dekat dengan lelaki cantiknya—bahkan Nani yang menempeli dirinya—adalah bagai bebas menjegal lawan di lapangan tanpa mendapat kartu pelanggaran. Nikmat yang sempurna. Dirinya seakan terlena dengan situasi ini sehingga tak mempersiapkan alternatif rencana apapun ketika memasuki pra musim. Sky butuh dan harus untuk berlatih, sedangkan Nani butuh—dan merasa harus— terus mendekapnya. Hari pertama kembali aktifnya jadwal berlatih tim, Sky benar-benar ingin menukar posisinya dengan Leo agar dia berhak meliburkan agenda latihan dan menghabiskan waktu mengurus lelaki cantiknya. Kompensasi atas mangkirnya Sky karena harus memenuhi tanggung jawabnya yang lain hari itu berupa menemani Nani berendam dengan dirinya tetap kering di luar bathtub serta menceritakan kembali kisah peradaban Suku Maya—karena menurut Nani, penjelasan Nat Geo justru membuatnya semakin pusing—sembari menyuapi potongan mangga di atas tempat tidur. Tak apa, Sky masih dan telah menyanggupinya.
Memasuki awal musim, Nani lebih dapat beradaptasi dengan jadwalnya. Shout out to his mother yang sangat menunggu kehadiran cucu pertama itu menjadikannya dengan suka rela berkunjung dan menemani Nani setiap Sky bertanding di luar kota. It’s also his mom’s work who manages Nani’s schedule to keep him healthy and happy entah melalui kelas yoga, agenda berbelanja, atau kelas memasak berdua. Nani yang kini dapat duduk dengan tenang di penthouse untuk menontonnya bertanding melalui siaran live telah cukup mengurangi rasa khawatirnya.
sayang 🐾💓
u look so fucking hot, sayang
I bet u’ve still got enough energy to fuck me tonight, right?
Memang tidak lagi rewel, tetapi pesan masuk yang akan dibacanya selesai pertandingan ini tetap membuatnya stres.
Pertandingan malam ini cukup sengit. Hasil seri di kandang sendiri bukanlah hal yang sepenuhnya memuaskan. Sky selesai membasuh singkat tubuhnya dan bersiap untuk pulang. Dirinya tak sabar menjatuhkan seluruh tubuhnya pada dekapan hangat Nani. Pun telapak tangannya gatal ingin segera menangkup perut lembut lelakinya yang semakin membulat. Sky masih mengingat perasaan panik ketika Nani menunjukkan raut terkejut dan menahan sakit kala itu. Dirinya reflek menopang bahu Nani dan memberinya kecup lembut berulang pada pelipis. Rasa panik yang kemudian terganti begitu saja oleh perasaan haru membuncah karena Nani mengarahkan tangan Sky pada perutnya.
“Adek barusan tendang perut aku, sayang!”
Setelah sapaan pertama dari anaknya sore itu, Sky tak pernah terlewat untuk memberikan cium merata pada seluruh permukaan perut Nani—bermaksud memberi sapa lebih dulu—dan menunggu berapa detik kiranya sang anak akan membalasnya.
Tubuhnya kini telah segar kembali. Sky tak mengizinkan dirinya untuk mendekati Nani sebelum benar-benar bersih setelah berlatih maupun bertanding. Sky dapat mendengar suara televisi dari kamar tidur sesampainya dia di penthouse dan sayup itu masih terdengar hingga saat ini. Kakinya melangkah tak sabar sebelum tubuhnya sontak berhenti di ambang pintu kamar. Nani sedang duduk bersila di atas ranjang dengan pencahayaan remang dan menghadap ke arah Sky sepenuhnya. Siaran pada layar televisi diabaikan total. Apapun itu, Sky merasa ada yang tidak beres.
“Kenapa diem di situ? Ngga bisa jalan?” Sky berpikir keras apa kiranya kesalahan yang paling mungkin untuk dia lakukan dalam kurun lima belas menit terakhir setibanya dia di penthouse.
“Sayang, aku…minta maaf.” Sky mengangkat kedua tangannya dan mencoba mengambil langkah maju.
“Kamu tuh emang udah kebiasaan talking shit ya?”
“Sayang.. ngomongnya kan bisa lebih bagu-”
“Why!? Kamu aja ngga ngerti letak salah kamu, kenapa minta maaf!?” Sky harap keahliannya membaca gerak lawan dapat dia gunakan pula dalam situasi saat ini.
“Just throw away your fucking phone next time if it ends up being useless.” oh God, Sky bahkan tak ingat dimana handphonenya saat ini.
“You didn’t read my text and didn't even bother to care about me anymore, Sky.”
“Sayang, I’m sorry. Aku ngga sempet cek handphone ta-”
“Ya itu salahnya! Kenapa ngga mau baca chat aku dulu!?”
“Sayang, aku beneran minta maaf. Sayang ada titip sesuatu kah? Aku bisa cariin sekarang.” Sky masih tak bergerak dari posisi awal, berdiri terpaku menghadap Nani. Keberaniannya muncul ketika melihat bibir ranum itu mencebik dan Nani mulai terisak. Tubuhnya sontak dia bawa mendekat duduk di samping Nani dan menangkup pipinya.
“Kamu sebelum mandi–kenapa ngga samperin aku dulu? Kenapa akunya–dibiarin padahal kamu udah pulang?” kusut pada kepalanya mulai terurai dan hatinya menghangat.
“Sayang… kan akunya masih kotor? Ngga mungkin dong aku masuk kamar dan peluk kamu dengan kondisi gitu?”
“But you can still at least just shout from there that you’re already home!”
“Iyaa, maafin aku yaa. Besok aku langsung panggil kamu deh tiap keluar lift.” tubuh itu akhirnya masuk dalam peluknya tanpa melawan. Sky bisa rasakan Nani semakin mengusak ke dalam ceruk lehernya mencari nyaman. Punggung bagian bawah Nani dipijatnya pelan bermaksud ringankan pegal.
“Tapi kalo udah malem banget jangan teriak, bisa aja aku udah tidur. Yang penting itu disamperin dulu, Sky!” kedua lengan itu kini memeluknya erat.
“Alright, baby. Aku ngerti sekarang. Terima kasih yaa.”
sayang 🐾💓
that’s totally intense, capt
ugh I hate that everybody can see u rn and i’m just sittin here. You so fucking HOT I HATE YOU
kalo keringetan gitu ganteng aku suka
nanti mau liat ya, sky
love youu
Dan Leo harus memukul kepala Sky esok paginya karena terus tersenyum lebar sepanjang sesi briefing.
Jika Sky boleh berkata jujur, dirinya sungguh merasa risih dengan kondisi tubuhnya saat ini. Membual dengan alasan terdapat kepentingan mendesak tak sesulit menahan dirinya untuk tetap menyetir dengan tenang tanpa merasa jijik. Selesai melakukan sesi team talk dan wawancara singkat dengan media, Sky bergegas pulang dengan tetap menggunakan jersey kebanggannya. Sky masih mengingat insiden pekan lalu yang hampir membuatnya kehilangan jatah pelukan hanya karena dirinya memilih mandi sebelum menemui Nani. Memanglah menjadi sesuatu yang berhasil suapi egonya ketika lelaki cantik itu memujinya. Oleh karena itu, malam ini, Sky dengan penuh kesadaran memilih membiarkan jok Jeep Wanglernya kotor.
Suara lift chime terdengar dan Sky semakin lebarkan senyumnya. Nani sempat mengirimkan pesan bahwa dia sedang berada di lantai bawah—bukan lantai utama. Entah kegiatan apa yang membuat Nani turun ke lantai ini ketika tak banyak yang bisa dilakukan di area yang memang dikhususkan untuk menjadi ruang tamu dan dapur utama itu. Mungkin lelaki manisnya memang sedang bosan saja.
“Sayang, you here?” jarak antara lift dengan sofa set pertama yang tak jauh membuat Sky tak perlu mengeraskan panggilannya. Suara narator Inggris yang terlampau dihafalnya itu terdengar, menandakan bahwa si cantik memanglah sedang di sini. Sky tunjukkan senyum cerah ketika dapati Nani terbalut cardigan krem dengan celana bahan senada yang nampak membungkus hangat tubuhnya. Cantik.
“Ew, you look disgusting.” dan Sky sepertinya kembali salah menganalisis.
“Sayang… boleh jelasin maksudnya..?” dirinya sungguh kebingungan. Bukankah seharusnya seperti ini?
“Just look at you, Sky. Jerseynya sampe nempel gitu kamu ngga risih sepanjang jalan?” Nani menjawab santai sembari tetap mengunyah chips dalam toples di pangkuannya. Melihat raut wajah Nani sekarang, Sky semakin menyadari bahwa mungkin dirinya memang terlihat mengerikan.
“Tapi kemarin Sayang bilang pengen liat aku..?” Nani tak beri reaksi apapun sejenak sebelum kedua alisnya naik dan terlihat telah mengingat sesuatu.
“Oh, you’re right. Tapi kotor ih, Sky. Kamu keringetan bekas tanah semua gitu.” berdasarkan ekspresi yang Nani berikan atas penampilannya saat ini, lelaki manis itu hanya tersisa satu langkah sebelum benar-benar muntah di hadapannya.
“Mandi ih! Kenapa diem disitu kamu ngga keburu pengen peluk aku kah?” Sky tak mampu menjawab apapun. Tentu perkiraannya malam ini salah total. Keinginan Nani telah berubah dan Sky hanya mampu mengangguk pelan sembari menutup matanya. Dibandingkan perasaan kesal, Sky justru sungguh ingin menggigit pipi Nani untuk salurkan rasa gemasny. Unexpected request dari Nani akan selalu ampuh hilangkan semua rasa penatnya.
“Aku ikut sekalian ke atas, tapi-” Nani berdiri pelan dan menunjuk tepat ke arahnya, “Kamu ngga boleh deket aku sama sekali sebelum bersih! Aku jangan diciumin dulu!” alis Nani menekuk serius yang justru membuat wajah manis itu semakin nampak lucu.
“Iya, sayang. Ayo, aku jalan di belakang kamu.”
Sebelum pintu lift terbuka, Sky rasakan lirikan Nani yang berjarak dua langkah di sampingnya.
“But.. you do look sexy like that. Pantesan fans kamu ba-” ucapan Nani terputus oleh ciuman singkat yang mendarat pada bibirnya dan dapat Sky pastikan semburat merah itu muncul kembali.
Kaos hitam yang diambilnya asal kini dibiarkan tak tersentuh di dekat kaki Nani. Lagi pula, dirinya yang telah kembali bersih dan duduk bersandar pada headboard ranjang tak merasa kedinginan hanya karena menggunakan short pants tanpa atasan—dengan Nani berada di pangkuannya. Hidungnya tak henti dicubit gemas bergantian dengan bibirnya yag terus dicium basah. Nani sedang ingin bermanja dan Sky adalah orang yang mutlak mendapat kemenangan. Jari lentik itu kini berpindah menyusuri alis tebalnya.
“Semogaa adek nanti alisnya tebel kaya kamu.” bibir Sky kembali dihadiahi ciuman. Pipinya kini ditangkup penuh untuk kemudian diusak asal oleh Nani.
“Kamu ini gembul apa engga sih? Kadang buleeet mirip samoyed tapi bisa tirus tiba-tiba teges rahangnya.” Sky tak dapat menahan tawanya dan salurkan gemasnya dengan mencium bibir itu lagi.
“Sayang sukanya yang mana?” tangan yang sedari tadi tak berpindah dari pinggang ramping itu terus memberi pijatan pelan.
“Mmm semua suka sih. Tapi paling suka iniiii lesung pipinya gemeeess sekali ayah.” satu titik dekat bibirnya kini menjadi sasaran.
“Adek nanti lebih mirip kamu atau aku terserah. Tapi, semoga matanya lebih mirip kamu. Cantiik sekali, sayang.” Sky dekatkan wajah itu dan Nani reflek menutup matanya untuk mendapat hadiah kecupan.
Ciuman itu kembali pada ranumnya. Nani selalu menyukai ketika bibirnya dilumat dengan adil oleh Sky. Bibirnya tak akan dipaksa terbuka lebih lebar sebelum benar-benar basah. Sky akan dengan sopan menggigit untuk memerintah sekaligus meminta izinnya. Lidah itu menelusup dan menyapanya. Mana mungkin Nani tak antusias membalas? Semua bagian tak ada yang terlewat oleh Sky, terlampau hafal. He was still busy exploring Nani’s mouth, devouring his tongue desperately, when he felt Nani begin to grind restlessly against him.
Fuck, ini gue yang mampus.
“Sayang, tunggu–bentar bentar.” ciuman itu terpaksa berhenti sebelum Sky semakin tak berdaya.
“Baby, kan minggu ini udah jatahnya.” dadanya mendapat pukulan—yang cukup kencang—dan Sky hanya mampu merintih pelan.
“Kamu nyebelin! Kenapa cepet banget sadarnya ih!” tak menunggu hingga lelaki di atasnya semakin merajuk, Sky kembali cium bibir yang telah membengkak itu.
“Jangan ya, sayang. Akunya juga mau banget kalo boleh jujur. Kamu makin cantik sejak hamil, mana mungkin aku ngga kegoda.” Sky gusakkan hidunya gemas dengan hidung Nani.
“Tapi kan harus dibatesin dulu biar kamu sama adek tetap sehat dan aman. Nurut dulu ya, sayang?”
“Bukan salah aku juga kamunya ganteng banget tiap hari.” tawa puas bercampur gemas itu memenuhi kamar tidur. Jika karakter puas diri yang selalu ditampilkannya di depan media tak akan pernah hilang, maka Sky akan menyalahkan Nani sepenuhnya. Mendapat pujian dari lelaki manis nan cantik—yang juga miliknya—tentu membuatnya jemawa.
“Tapi pelukin aku sampe besok pagi ya, Sky.”
Dan Nani yang selalu meminta seperti ini, seakan tak menyadari bahwa semua tentangnya telah menjadi kebutuhan Sky hingga sisa hidupnya.
